Pernahkah Anda melihat produk dengan label diskon besar-besaran, misalnya diskon 70%, namun harganya terasa sama saja dengan harga toko lain? Ini adalah trik retail klasik yang sering disebut sebagai diskon palsu (fake discount) atau manipulasi harga coret.

Apa Itu Diskon Palsu?

Diskon palsu terjadi ketika seorang merchant menaikkan harga dasar suatu produk secara tidak wajar sesaat sebelum promo berlangsung, lalu mencoret harga tinggi tersebut dan menampilkan harga normal sebagai "harga diskon". Praktik ini bertujuan menciptakan urgensi palsu agar pembeli merasa mendapatkan penawaran yang sangat menguntungkan.

Bagaimana AI DPrice Melacak dan Mendeteksi Manipulasi Ini?

Sistem AI Deal Scorer dan Fake Discount Detector di DPrice bekerja dengan melacak pergerakan harga produk secara terus-menerus selama 90 hari terakhir. Berikut adalah tahapan algoritmanya:

  1. Pengumpulan Riwayat Harga: Robot scraper kami mencatat harga aktual setiap listing produk di Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli secara berkala.
  2. Kalkulasi Median & Harga Wajar: Sistem menghitung harga median (harga tengah) produk tersebut selama 90 hari terakhir untuk mengeliminasi harga anomali.
  3. Deteksi Harga Coret: Saat mendeteksi adanya harga coret (original price) yang dikirimkan e-commerce, AI kami akan membandingkan harga coret tersebut dengan harga median historis.
  4. Pemberian Label (Tagging):
    • Jika harga coret jauh lebih tinggi dari harga wajar historis sementara harga diskon sama dengan harga wajar, sistem akan memberi label FAKE DISCOUNT.
    • Jika harga diskon memang benar-benar turun di bawah harga terendah 90 hari terakhir, sistem akan memberi label SUPER DEAL atau GOOD DEAL.

Mengapa Fitur Ini Penting Bagi Konsumen?

Dengan adanya Fake Discount Detector, Anda tidak lagi terjebak oleh urgensi buatan saat Harbolnas atau Flash Sale. Anda bisa berbelanja secara cerdas berdasarkan data riil, bukan berdasarkan gimmick visual coretan harga merah.